Sabtu, 09 Februari 2019


BERSYUKUR SETIAP SAAT
Namaku : Najwa lailatus silvia
No peserta ku: 
        Dari begitu bangun pagi di kamar lantai atas sampai turun ke lantai bawah, sudah berapa kali saya mengucapkan terimakasih dan bersyukur? Mungkin sudah lima kali sampai tujuh kali. Dalam satu hari? Berapa kali saya berterimakasih dan bersyukur dalam hati? Berapa kali saya saya ucapkan dengan lantang bersuara dengan orang lain? Mungkin bisa sampai 50 sampai 100 kali, bias jadi lebih, karena tidak saya hitung.                                        Tidak praktis kedengarannya? Kok ya aneh mengucapkan terima kasih sampai puluhan kali dalam dan satu hari? Bahkan ratusan kali? Jawabannya mudah saja: dengan berterimakasih dan bersyukur, kita selalu mencari sisi positif dari segala sesuatu. Dengan mencari sisi positif, maka diri kuta semkain menajdi positif dalam melihat segala sesuatu. Pasti ada putih setitik di dalam hitam kelam dan ada hitam setitik di dalam putih bersih.
            Dengan selalu mengingat kelimpahan kita, otak kita mencetak keyakinan (believe) bahwa memang benar kita hidup di dalam kelimpahan. Maka, semuja perbuatan kita didasari oleh keyakinan ini, termasuk persepsi dirikita sebagai personifikasi dari sukses. Lantas, sampai kapan perlu mengucapkan terimakasih dan bersyukur berpuluh-puluh kali tersebut? Sepanjang hayat.
Ah, tidak praktis, mungkin ada yang berpendapat demikian. Sekali lagi bahwa inin tidak mengajarkan untuk sukses dalam semalam, namum dengan mengubah  mindset  (pola pikir) maka segala factor eksternal yang sering menjadi atribut orang sukses akan dating dengan sendirinya bagaikan arus sungai.
Berterima kasih dan bersyukur toh tidak memerlukan modal uang maupun sumber daya apapun. Intinya hanya satu, yaitu kemampuan keras untuk mengubah diri. Jangan pikirkan “pahala” yang anda dapat dari perbuatan ini dulu. Jangan pula mengharap nasib akan berubah dalan sekejap. Yang jelas, dengan mengucapkan  terimakasih kepada orang lain tanpa ada rasa keterpaksaan dan rasa canggung saja sudah merupakan jembatan kita kedalam hati orang itu.
Terima Kasih” tidak akan pernah di tolak oleh orang lain, malah biasanya disambut dengan senyum lebar dan hati yang sedikit lebih lembut dari pada sebelumnya. Ini saja sudah merupakan magnit yang bias membantu kita semua dalam memproyeksikan diri yang sukses ke luar. Jadi, jika  ada keraguan dank e-engganan untuk berterimakasih dan bersykur dalam skala dan frekuensi luar biasa, maka sebaiknya anda urungkan niat anda untuk menjadi personifikasi dari sukses itu sendiri. Ammiiin…